WEF Davos: Prabowo Tegaskan Perdamaian dan Stabilitas sebagai Aset Utama Pertumbuhan Global

-

WEF Davos: Prabowo Tegaskan Perdamaian dan Stabilitas sebagai Aset Utama Pertumbuhan Global

Oleh : Diana Triasunu

Presiden Prabowo Subianto tampil lugas di panggung World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos dengan membawa satu pesan sentral: perdamaian dan stabilitas merupakan fondasi paling bernilai bagi pertumbuhan ekonomi global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di tengah dunia yang dilanda ketegangan geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan ketidakpastian kebijakan, Presiden menempatkan isu tersebut bukan sebagai wacana normatif, melainkan sebagai prasyarat struktural bagi kemakmuran bersama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Forum internasional tersebut dimanfaatkan Prabowo untuk menegaskan bahwa dunia tengah memasuki fase yang rapuh. Konflik bersenjata, perang dagang, serta tekanan keuangan global menciptakan risiko sistemik yang menghambat pertumbuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam konteks tersebut, Presiden menegaskan bahwa sejarah dunia secara konsisten menunjukkan satu pola, yakni kemakmuran tidak pernah tumbuh di atas ketidakstabilan. Perdamaian dan stabilitas berperan sebagai aset paling berharga bagi peradaban modern karena keduanya memungkinkan investasi, perdagangan, dan pembangunan manusia berjalan berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prabowo kemudian mengaitkan pesan global tersebut dengan pengalaman Indonesia. Presiden menegaskan bahwa stabilitas nasional bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari pilihan kebijakan yang mengedepankan persatuan, kolaborasi, dan hubungan persahabatan dengan berbagai pihak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendekatan tersebut menjaga Indonesia tetap berada di jalur moderat di tengah dinamika global yang kian terpolarisasi. Sikap tersebut sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra yang rasional dan dapat diprediksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam pidato kunci tersebut, Presiden juga memaparkan ketangguhan ekonomi nasional sebagai bukti konkret bahwa stabilitas menghasilkan daya tahan. Indonesia mampu menjaga inflasi di kisaran dua persen dan defisit anggaran tetap berada di bawah tiga persen dari produk domestik bruto.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Capaian tersebut disampaikan sebagai hasil disiplin fiskal yang konsisten, bukan sebagai retorika optimisme. Pengakuan lembaga internasional yang menempatkan Indonesia sebagai titik terang pertumbuhan global dijadikan Presiden sebagai refleksi atas kebijakan yang terkalibrasi dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kredibilitas ekonomi menjadi penekanan berikutnya. Prabowo menegaskan bahwa kepercayaan global hanya dapat dibangun melalui rekam jejak yang terjaga lintas pemerintahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Indonesia, menurut Presiden, selalu menghormati kewajiban keuangan negara tanpa memandang pergantian rezim. Konsistensi tersebut memperkuat reputasi Indonesia di mata investor dan mitra internasional, terutama saat banyak negara menghadapi tekanan utang dan volatilitas pasar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Presiden juga menegaskan arah politik luar negeri Indonesia yang berlandaskan prinsip seribu teman terlalu sedikit dan satu musuh terlalu banyak. Filosofi tersebut diposisikan sebagai strategi aktif untuk menjaga perdamaian dan memperluas ruang dialog.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Indonesia memilih menjadi warga dunia yang bertanggung jawab, termasuk dalam isu perlindungan lingkungan dan keberlanjutan. Pendekatan tersebut menempatkan diplomasi sebagai instrumen ekonomi sekaligus penjaga stabilitas global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di sisi domestik, Prabowo mengaitkan stabilitas global dengan agenda kesejahteraan rakyat. Presiden menegaskan bahwa kepemimpinan bertujuan menghadirkan perubahan nyata bagi kelompok paling rentan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemerintah memusatkan perhatian pada pemberantasan korupsi, perbaikan tata kelola, dan penghapusan penyalahgunaan kekuasaan sebagai prasyarat keadilan sosial. Stabilitas politik, menurut Presiden, kehilangan makna apabila tidak diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Capaian di sektor ketahanan pangan turut dipaparkan sebagai contoh konkret. Target swasembada beras yang semula dirancang untuk empat tahun berhasil dicapai dalam waktu satu tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Presiden menyampaikan optimisme bahwa kemandirian pangan lain, termasuk jagung, gula, dan protein, dapat diwujudkan melalui disiplin kebijakan dan konsistensi kepemimpinan. Keberhasilan tersebut diposisikan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas nasional di tengah gejolak global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prabowo juga menegaskan sikap terbuka terhadap integrasi ekonomi global. Perdagangan internasional dan kemitraan ekonomi dipandang sebagai sarana saling menguntungkan, bukan ancaman kedaulatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Presiden menekankan bahwa Indonesia merupakan bangsa perdagangan sejak berabad-abad lalu dan terus memperluas perjanjian ekonomi atas dasar kebutuhan strategis. Visi tersebut diarahkan untuk membangun negara modern yang terintegrasi dengan ekonomi global sekaligus bebas dari kemiskinan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Reformasi birokrasi, penyederhanaan regulasi, serta investasi pada pendidikan dan kesehatan disebut sebagai prioritas pemerintahan. Presiden menegaskan bahwa administrasi publik harus melayani kepentingan umum dan tidak tunduk pada kepentingan ekonomi yang serakah. Kepastian hukum dan pemerintahan yang bersih diposisikan sebagai prasyarat utama bagi iklim investasi yang sehat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menjelang penutupan pidato, Prabowo memperkenalkan arah pemikiran ekonomi yang disebut Prabowonomics. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa konsep tersebut menekankan stabilitas fiskal serta kemandirian pangan dan energi agar ekonomi nasional bergerak optimal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menambahkan bahwa gagasan tersebut berangkat dari pemikiran yang telah dirancang dan diterapkan, disertai hasil konkret selama satu tahun kepemimpinan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Melalui WEF 2026, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memilih perdamaian, stabilitas, dan dialog sebagai kompas pembangunan yang dijalankan secara konsisten, baik di dalam negeri maupun dalam relasi internasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sikap tersebut mencerminkan keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kepastian politik dan kepercayaan global. Pesan tersebut menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai negara yang mampu bertahan menghadapi guncangan dunia, tetapi sebagai mitra global yang siap tumbuh bersama, menawarkan solusi, menjaga keseimbangan kepentingan, serta berkontribusi aktif dalam membentuk tatanan ekonomi internasional yang lebih inklusif dan berkelanjungan dalam lanskap dunia yang semakin menuntut kepemimpinan berimbang dan visioner. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*) pemerhati hubungan internasional

Related Stories