Ketahanan dan Swasembada Pangan Indonesia: Surplus di Tengah Tantangan Global
Oleh : Sri Utami
Di tengah krisis pangan global yang masih melanda banyak negara, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mencatat capaian penting dalam memperkuat ketahanan pangan, berhasil mendekati swasembada melalui kebijakan dan strategi yang terfokus pada sektor pertanian. Kini, Indonesia mulai menikmati hasil nyata dari upaya panjang tersebut, yang menegaskan peran strategis pertanian dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.
Pencapaian tersebut tidak datang dalam semalam tetapi melalui proses panjang reformasi dan akselerasi produksi pertanian serta koordinasi antar lembaga pemerintah. Pada awal 2026, Presiden Prabowo secara resmi menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada terutama di komoditas dasar seperti beras, setelah pemerintah tidak perlu lagi mengimpor beras pada sepanjang tahun 2025. Pernyataan ini memberikan sinyal kuat bahwa arah kebijakan pangan yang digariskan sejak beberapa tahun terakhir membuahkan hasil nyata.
Tidak hanya beras, kondisi ketahanan pangan kini semakin kokoh dengan keberhasilan pemerintah memproyeksikan surplus pada sembilan komoditas pangan pokok strategis di awal 2026. Menurut data proyeksi Neraca Pangan Nasional, total ketersediaan beras diperkirakan mencapai 27,55 juta ton, jauh melampaui kebutuhan nasional yang berada di angka sekitar 10,30 juta ton menghasilkan surplus lebih dari 17 juta ton.
Keberhasilan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menegaskan bahwa pencapaian surplus pada sembilan komoditas pokok ini bukan sekadar target angka, tetapi menjadi momentum strategis yang patut disyukuri sekaligus dijaga melalui pengelolaan distribusi dan harga yang efisien. Dengan posisi stok yang kuat menjelang bulan suci Ramadan, kondisi surplus harus tercermin pada stabilitas harga di tingkat konsumen. Tidak boleh ada pihak yang memanfaatkan momentum untuk kepentingan sepihak.
Surplus komoditas pangan tersebut membuka ruang yang lebih luas tidak hanya untuk memperkuat kebutuhan domestik, tetapi juga untuk memperluas peluang ekspor. Sepanjang 2025, ekspor bawang merah tercatat mencapai lebih dari 1,5 ribu ton, sementara ekspor jagung mencapai hampir 7,5 ribu ton, memperlihatkan bahwa produksi dalam negeri tidak hanya cukup untuk dikonsumsi masyarakat tetapi juga kompetitif di pasar internasional.
Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan bahwa Bulog siap menjalankan mandat pemerintah untuk mendukung swasembada pangan secara berkelanjutan. Menurutnya, mulai tahun 2026 dan seterusnya, Bulog akan terus memperkuat perannya dalam menyerap hasil petani, menjaga cadangan pangan, serta menyalurkan beras secara optimal ke seluruh wilayah Indonesia.
Keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan kinerja sektor pertanian semata tetapi juga menjadi cerminan betapa kebijakan pemerintah yang tegas dan berorientasi pada hasil mampu mengubah struktur ketahanan pangan secara fundamental. Pemerintah pun tidak berpuas diri. Untuk komoditas yang belum sepenuhnya mencapai swasembada, seperti kedelai, bawang putih, dan sapi, upaya peningkatan produksi terus digencarkan melalui berbagai program bantuan, peningkatan teknologi pertanian, serta kolaborasi dengan sektor swasta dan petani lokal.
Salah satu tantangan besar pemerintah dalam fase penguatan ketahanan pangan adalah menjaga stabilitas harga di pasar. Meskipun stok pangan melimpah dan surplus tercetak, fluktuasi harga di tingkat konsumen tetap menjadi perhatian serius. Hal ini penting agar surplus produksi tidak menjadi sia-sia akibat disparitas harga yang merugikan konsumen.
Langkah strategis lain juga terlihat dari peningkatan alokasi anggaran untuk ketahanan pangan. Sebagai contoh, dalam APBN 2026, anggaran untuk ketahanan pangan ditingkatkan secara signifikan untuk memperkuat distribusi pangan, pembangunan fasilitas produksi, penyediaan pupuk, dan program stabilisasi harga pula. Investasi tersebut dirancang untuk memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir serta memastikan bahwa para petani mendapatkan dukungan yang memadai dalam jangka panjang.
Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama kedaulatan bangsa, sekaligus penopang stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, capaian swasembada beras menjadi bukti bahwa Indonesia mampu berdiri kuat menghadapi ketidakpastian global.
Perjalanan menuju swasembada dan ketahanan pangan Indonesia ini juga mempertimbangkan tantangan global yang tidak sederhana. Perubahan iklim dunia yang semakin sering menghasilkan fenomena cuaca ekstrem, seperti kekeringan atau banjir, serta tekanan geopolitik pada rantai pasok global menjadi ancaman yang harus diantisipasi secara berkelanjutan. Ketahanan pangan bukan sekadar mencetak surplus hari ini, tetapi menjaga konsistensi produksi dan keberlanjutan sistem pangan nasional di masa depan.
Keberhasilan Indonesia mencapai surplus pada sembilan komoditas pokok strategis memberikan rasa optimisme dan harapan baru bagi bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa dengan perencanaan yang matang, investasi yang tepat, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, negara agraris seperti Indonesia mampu berdiri tegak dalam memenuhi kebutuhan pangan sendiri bahkan di tengah krisis global. Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di kancah regional dan global, tetapi juga memastikan bahwa setiap warga negara terpenuhi kebutuhan pangannya secara layak, stabil, dan berkelanjutan.
Dengan langkah yang konsisten, ketahanan pangan Indonesia saat ini bukan lagi sekadar ambisi jangka panjang, melainkan realitas yang semakin kokoh berdiri sebagai fondasi penting dalam pembangunan sosial-ekonomi bangsa di era modern ini
)* Pengamat Ketahanan Pangan Daerah


