HUT ke-81 RI Dijaga Aman, Masyarakat Diimbau Utamakan Informasi Terverifikasi
Jakarta – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat diimbau lebih cermat dalam menyikapi informasi yang beredar di ruang digital.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan konten yang belum terverifikasi.
Imbauan tersebut menjadi relevan di tengah munculnya kembali video demonstrasi lama atau dokumentasi peristiwa tertentu yang dikemas dengan narasi seolah-olah merupakan kejadian terbaru.
Komisioner KPI Pusat, Tulus Santoso, menegaskan masyarakat memiliki hak memperoleh informasi yang akurat sekaligus tanggung jawab untuk bersikap kritis ketika menerima informasi dari berbagai platform digital.
“Informasi saat ini sangat mudah diperoleh melalui berbagai platform digital yang tidak mudah diatur. Karena itu, masyarakat harus selalu bersikap kritis terhadap setiap informasi yang beredar,” ujar Tulus dalam keterangannya.
Menurut Tulus, perkembangan teknologi memungkinkan siapa saja memproduksi dan menyebarluaskan informasi tanpa melalui proses jurnalistik sebagaimana diterapkan lembaga penyiaran maupun media profesional.
Masyarakat perlu memeriksa sumber pertama, waktu pengambilan gambar, lokasi kejadian, serta membandingkan informasi dengan pemberitaan dari media yang kredibel.
Ia juga mengingatkan bahwa video lama dapat dengan mudah digunakan kembali untuk membangun narasi baru. Pola serupa ditemukan pada sejumlah unggahan mengenai demonstrasi maupun pembangunan pagar di pusat perbelanjaan yang dinarasikan sebagai antisipasi kerusuhan di Ibu Kota, meski rekaman tersebut berasal dari dokumentasi sebelumnya.
“Media yang memiliki legalitas dapat menjadi salah satu rujukan untuk memeriksa kebenaran informasi yang beredar di platform digital. Jangan langsung percaya atau menyebarkannya sebelum dilakukan pengecekan,” katanya.
Literasi informasi juga penting bagi masyarakat dalam menghadapi konten yang berkaitan dengan persoalan pribadi dan keluarga.
Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada, Erna Yulianti, mengingatkan orang tua agar tidak mengambil kesimpulan medis hanya berdasarkan informasi yang ditemukan di media sosial, khususnya terkait anak neurodivergen.
“Jika terlalu banyak mendapatkan informasi, dikhawatirkan informasi-informasi yang kita serap dengan sendirinya itu menjadi self-diagnose. Jika dibiarkan, itu akan berbahaya bagi kita,” ujar Erna.
Erna menilai orang tua perlu memastikan kompetensi pembuat konten serta sumber rujukan yang digunakan.
“Misalnya dia membahas topik sensitif, apakah dia sudah dalam bidangnya, kemudian dari mana dia mengutip sumber itu? Konten yang kredibel biasanya mencantumkan referensi,” tambahnya.
[w.R]

