Kunker Presiden Prabowo ke UEA Memperkuat Kemitraan Strategis Berkelanjutan

-

Kunker Presiden Prabowo ke UEA Memperkuat Kemitraan Strategis Berkelanjutan

 

 

 

 

Oleh : Rahman Aditya

 

 

 

 

Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Abu Dhabi dan pertemuan bilateral dengan Presiden Persatuan Emirat Arab Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan pada 26 Februari 2026 menjadi penanda penting arah diplomasi Indonesia ke depan. Pertemuan yang berlangsung di Istana Qasr Al Bahr itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum strategis untuk mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra utama di kawasan Timur Tengah. Di tengah dinamika geopolitik global dan kompetisi ekonomi yang semakin ketat, penguatan hubungan dengan Persatuan Emirat Arab menunjukkan ketegasan visi pemerintahan Presiden Prabowo dalam membangun kemitraan yang konkret, terukur, dan berorientasi hasil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suasana hangat yang menyertai penyambutan di taman istana mencerminkan kedekatan personal kedua pemimpin sekaligus kematangan hubungan bilateral yang telah terbangun selama lima dekade. Format pertemuan yang melingkar dan setara memperlihatkan semangat dialog terbuka dan saling menghormati. Simbolisme tersebut penting karena memperlihatkan bahwa kemitraan Indonesia dan UEA tidak dilandasi relasi hierarkis, melainkan kolaborasi yang saling menguntungkan. Dalam lanskap diplomasi modern, kesetaraan menjadi fondasi kepercayaan, dan kepercayaan adalah modal utama untuk melangkah pada proyek-proyek strategis bernilai besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam penjelasan terpisah, Menteri Luar Negeri Sugiono menilai bahwa kunjungan tersebut menandai fase baru hubungan bilateral yang semakin komprehensif dan berorientasi pada hasil nyata, khususnya dalam memperkuat posisi Indonesia di tengah perubahan peta geopolitik global. Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia berpandangan bahwa perluasan kerja sama energi dengan UEA akan mempercepat agenda hilirisasi, transisi energi, serta peningkatan investasi di sektor strategis nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan bilateral itu juga menegaskan kesinambungan sekaligus akselerasi hubungan yang telah terjalin erat pada periode sebelumnya. Namun di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, arah kerja sama didorong lebih progresif dengan penekanan pada transformasi ekonomi, ketahanan energi, dan penguatan industri pertahanan. Kehadiran jajaran menteri kunci serta pimpinan industri strategis nasional memperlihatkan bahwa diplomasi yang dibangun bukan diplomasi simbolik, melainkan diplomasi produktif yang langsung menyentuh sektor prioritas pembangunan nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UEA selama ini dikenal sebagai salah satu pusat investasi dan keuangan paling dinamis di kawasan Teluk. Kemitraan yang diperluas dalam bidang energi dan infrastruktur membuka peluang percepatan hilirisasi sumber daya alam Indonesia, pengembangan energi baru dan terbarukan, serta pembiayaan proyek-proyek strategis nasional. Dalam konteks tersebut, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memandang bahwa koordinasi lintas kementerian dan lembaga menjadi kunci agar setiap komitmen kerja sama dapat segera ditindaklanjuti dalam bentuk proyek konkret yang memberikan dampak ekonomi langsung.

Related Stories