JAKARTA – Akademisi dari STISIPPB Sopeng, Ramdansyah Bakir mengingatkan semua pihak untuk sama-sama menjaga demokrasi Pancasila.
Ia juga meminta semua pihak kut mengawal tahapan pemilu. Semisal silon KPU. Ia pun menjelaskan tentang The Broken Windows Theory.
“Upaya publik untuk mengecek, untuk memperbaiki. Hal itu untuk mencegah ‘maling’ masuk. Semakin banyak yang mengawasi maka akan semakin baik demokrasi,” ujarnya saat menjadi narasumber Webinar ‘Praktek Demokrasi di Indonesia dan Eksistensi Pancasila di Era Globalisasi’ yang digelar Kesbangpol Jakarta Timur, Jumat (23/6/2023).
Webinar yang digelar Kesbangpol Jakarta Timur, mengambil tema Peningkatan Etika dan Budaya Politik Dalam Berdemokrasi.
Asisten Pemerintahan Kotamadya Jakarta Timur Eka Darmawan, mengatakan partisipasi pemilih di Jakarta Timur tinggi pada pemilu 2019.
“Sampai 80 persen, kita harapkan pada pemilu nanti semakin meningkat,” ujarnya saat membuka Webinar.
Dalam acara tersebut, Eka Darmawan, menyoroti demokrasi di era saat ini
yang cenderung kebablasan. Ia berharap Webinar tersebut dapat memberi pemahaman kepada semua pihak pentingnya Etika dan Budaya Politik Dalam Berdemokrasi.
Sementara itu, Ramdansyah saat menjadi narasumber bertema Praktek Demokrasi di Indonesia dan Eksistensi Pancasila di Era Globalisasi, menjelaskan ada lima poin yang saya jadikan satu. Demokrasi, praktik demokrasi di Indonesia, Eksistensi Pancasila, era globalisasi.
“Kita sudah sepakat Pancasila. Kemudian ada juga Sumpah Pemuda. Saya sering ke wilayah Indonesia. Dari Aceh sampai Papua, bahasa Indonesia mereka, walaupun beda dialek, kita ngerti. Beda misalnya kalau di Malaysia. Bahasanya ada yang campur Inggris,” jelasnya.
Lebih lanjut Ramdansyah mengatakan, dari beberapa kali ia melakukan penelitian,
banyak beda pendapat dari suatu gambar.
Misalnya dua orang yang sedang bertatapan, dan cangkir di tengahnya. Jawaban setiap orang saat ditanya gambar apa itu, beda.
Juga misalnya, apakah sebuah batang besi lurus dimasukkan ke air
Itu besinya lurus atau bengkok.
“Persepsi orang terhadap gambar saja bisa berbeda,” jelasnya.
Di era globalisasi, Ramdansyah juga menerangkan, tentang kliktivisme. Ada kecepatan tangan lebih cepat dibandingkan rasio. Ketika kita memforward.
“Hampir banyak aktivitas kita di bawah kesadaran. Misalnya saat kita benci sama orang, kita mengetahui ada berita akan langsung forward. Kita cenderung suka mendengarkan yang kita suka. Aktivitas itu tentu tidak baik,” ujarnya.
Ramdansyah juga menyoroti image politik. Ia mengaku pernah melakukan sosialisasi terkait pemilu di salah satu sekolah.
“Saat saya hendak sosialisasi di salah satu SMA, saya disuruh keluar sama pelajarnya. Karena politik katanya kotor atau brengsek. Oke, saya mau keluar kalau bisa jawab pertanyaan, apakah politik itu brengsek. Saya keluar dan dikejar. Disuruh lanjut materi Saya bilang kalau anda tidak masuk politik dan tidak merubah, maka politik akan brengsek,” jelasnya.
“Ketika mereka bilang politik kotor dan brengsek. Kita harus bercermin,” imbuh Ramdansyah.
Dalam politik Ramdansyah menyampaikan, seperti persepsi orang tentang gambar, bisa saja mereka yang benar atau kita yang benar.


