HUT ke-81 RI Menjadi Momentum Menolak Provokasi dan Memperkuat Persatuan

-

HUT ke-81 RI Menjadi Momentum Menolak Provokasi dan Memperkuat Persatuan

Oleh : Rivka Mayangsari

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum penting bagi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan, memperkokoh semangat kebangsaan, serta menjaga stabilitas nasional di tengah berbagai tantangan global dan dinamika kehidupan bermasyarakat. Dengan mengusung tema ”Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, peringatan kemerdekaan tahun ini tidak hanya menjadi ajang mengenang perjuangan para pendiri bangsa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa cita-cita Indonesia maju hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama, solidaritas, dan komitmen seluruh rakyat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tema tersebut mencerminkan arah pembangunan nasional yang menempatkan kedaulatan, pemerataan, dan kesejahteraan sebagai fondasi utama menuju Indonesia yang semakin kuat. Di tengah perkembangan dunia yang penuh ketidakpastian, semangat persatuan menjadi modal sosial yang sangat penting agar bangsa Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan tanpa kehilangan arah dan identitas kebangsaannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Cirebon, Eli Haryati, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” memiliki makna yang sangat mendalam. Menurutnya, makna berdaulat tidak hanya berkaitan dengan kekuatan negara dalam menjaga wilayah dan kedaulatan politik, tetapi juga kemampuan bangsa menentukan masa depannya secara mandiri tanpa bergantung kepada pihak lain. Kemandirian tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lebih lanjut, Eli menjelaskan bahwa nilai keadilan harus diwujudkan melalui pemerataan pembangunan, kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat, serta penegakan hukum yang tidak membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun wilayah. Sementara itu, kemakmuran merupakan tujuan akhir dari seluruh proses pembangunan nasional yang terus dilakukan pemerintah melalui berbagai program strategis di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, ketahanan pangan, hingga pembangunan infrastruktur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut Eli, pencapaian tujuan tersebut tidak dapat diwujudkan hanya oleh pemerintah semata. Seluruh komponen bangsa memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata sesuai dengan kapasitas masing-masing. Semangat gotong royong yang menjadi jati diri bangsa Indonesia harus terus dipelihara sebagai kekuatan utama dalam membangun bangsa yang maju dan berdaya saing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia juga mengingatkan bahwa semangat kemerdekaan tidak cukup diwujudkan melalui upacara, perlombaan, maupun kegiatan seremonial selama bulan Agustus. Nilai-nilai perjuangan para pahlawan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, bekerja keras, menjaga toleransi, serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan baru yang tidak kalah penting. Arus informasi yang sangat cepat melalui media digital membawa manfaat besar, namun juga membuka ruang bagi penyebaran hoaks, disinformasi, fitnah, provokasi, dan narasi kebencian yang berpotensi memecah belah masyarakat. Polusi informasi tersebut dapat mengaburkan fakta, menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi negara, serta mengganggu harmoni sosial apabila tidak disikapi secara bijaksana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketua Umum DPC PERMAHI Jambi, Roland Pramudiansyah, S.H., berpandangan bahwa situasi tersebut harus dimaknai sebagai panggilan bersama untuk menjaga ketenangan dan memperkuat persatuan, terutama menjelang berbagai momentum penting nasional seperti peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan ruang publik yang sehat, damai, dan produktif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Roland menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran historis sebagai *moral force* sekaligus *agent of change*. Kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian yang sah dalam kehidupan demokrasi, namun kritik tersebut harus dibangun berdasarkan data, kajian ilmiah, argumentasi yang rasional, serta etika kebangsaan. Demokrasi yang sehat tidak dibangun melalui penyebaran informasi palsu ataupun narasi provokatif yang sengaja dirancang untuk memecah persatuan bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam konteks tersebut, literasi digital menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat modern. Kemampuan untuk memverifikasi informasi sebelum membagikannya, memahami konteks sebuah berita, serta mengedepankan sikap tabayun menjadi benteng penting dalam menghadapi berbagai bentuk manipulasi informasi. Masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum terverifikasi karena dampaknya dapat mengganggu stabilitas sosial maupun kehidupan demokrasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERMAHI Jambi mengajak seluruh mahasiswa, organisasi kepemudaan, insan pers, akademisi, tokoh agama, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat luas untuk bersama-sama menjadi pelopor literasi digital. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun ruang diskusi yang sehat, terbuka, dan berbasis fakta sehingga perbedaan pandangan dapat diselesaikan melalui dialog yang konstruktif, bukan melalui penyebaran kebencian maupun provokasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi pengingat bahwa tantangan bangsa pada masa kini tidak lagi hanya berupa ancaman fisik, tetapi juga ancaman terhadap persatuan melalui ruang digital. Oleh karena itu, menjaga persatuan harus dimulai dari kesadaran setiap warga negara untuk menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, menghormati perbedaan pendapat, serta mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok. Dengan semangat “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, seluruh elemen bangsa diharapkan terus memperkuat solidaritas, menolak segala bentuk provokasi dan disinformasi, serta menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai momentum memperkokoh persatuan demi mewujudkan Indonesia yang semakin maju, damai, dan sejahtera.

 

 

 

 

*) Pemerhati sosial

Related Stories