Gus Badawi Sentil Munas-Konbes NU 2026: Jangan “Keburu-buru” dan Saatnya Tanfidziyah Mentok di Usia 55 Tahun!

-

Isu regenerasi dan efektivitas organisasi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendadak memanas. Pasca-Rapat Pleno PBNU menetapkan jadwal Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU pada 20-21 Juni 2026, kritik tajam justru datang dari jantung kultural NU Jawa Tengah.

KH Ahmad Badawi Basyir, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Bareng, Jekulo, Kudus, melontarkan otokritik pedas yang menyoroti persiapan elite PBNU. Putra ulama kharismatik legendaris Mbah Basyir ini secara blak-blakan menyebut agenda besar tersebut terkesan dipersiapkan secara tergesa-gesa.

“Sembari melihat stok kekuatan PBNU kini dalam memberikan gagasan, di Munas dan Konbes yang terkesan cepat-cepat ini tentu membutuhkan ekstra energi. PBNU jangan ‘sok berdikari’. Kalau mau jujur, libatkan para ahli dari dalam struktural maupun luar NU. Serap sumber yang kompeten, termasuk dari NU kultural agar gagasannya membumi,” tegas Gus Badawi, Senin (25/5/2026).

Sentilan ini menjadi tamparan halus bagi elite PBNU yang tengah mengebut draf aturan pembentukan perkumpulan, mulai dari regulasi Badan Usaha Milik NU hingga transisi digital “Tata Kelola Digdaya”. Gus Badawi mengingatkan agar syahwat administratif digital ini tidak mengaburkan jati diri NU yang asli: pinter, sederhana, toleran, dinamis, dan mengayomi.

Bongkar Resep Kaderisasi: Tirat Tiga Generasi

Gus Badawi juga menyoroti keputusan Katib Aam PBNU KH Said Asrori yang mengembalikan lokasi Munas-Konbes ke rahim pondok pesantren (salah satu opsinya di Pesantren Ploso dan Bangkalan). Langkah ini diambil PBNU demi memulihkan kepercayaan (trust) warga nahdliyyin di tengah badai isu miring yang menyerang pesantren.

Namun, bagi Gus Badawi, kembali ke pesantren saja tidak cukup jika pengelolaan SDM-nya keliru. Ia membongkar rahasia mengapa dakwah NU selama ini dikenal kokoh dan sulit dihancurkan. Kuncinya ada pada pelibatan tiga generasi sekaligus secara berimbang, meniru pola kaderisasi Nabi Muhammad SAW.

“Di setiap perkumpulan NU, hendaknya ada tiga generasi yang berjalan bersama: generasi tua, orang dewasa, serta remaja dan anak-anak. Jangan timpang,” jelasnya.

Sangu Menohok: Batasan Usia Tanfidziyah dan AHWA

Puncak dari “sangu” menohok Kiai Sepuh Jekulo ini tertuju pada bursa kepemimpinan menjelang Muktamar Ke-35. Gus Badawi meminta PBNU dan PWNU seluruh Indonesia untuk berhenti bermain politik akomodatif yang kaku dan mulai melakukan alih generasi secara radikal demi masa depan organisasi ulama terbesar di dunia ini.

Secara spesifik, Gus Badawi mematok batasan usia yang rigid dan berani untuk jajaran pengurus masa depan.

“Sudah waktunya alih generasi. Untuk Ahlul Halli wal Aqd (AHWA), cukup diisi oleh 3 kiai berumur di atas 70 tahun dan 6 kiai di atas 60 tahun. Itu pun catatan pentingnya: harus yang masih produktif. Ayo digoleki (mari dicari)!” serunya.

Sementara untuk jajaran eksekutif atau Tanfidziyah—yang dituntut bergerak lincah, trengginas, dan akrab dengan tantangan global serta digitalisasi—Gus Badawi memberikan batasan usia yang jauh lebih muda dan segar.

“Untuk Tanfidziyah, idealnya diisi oleh mereka yang berusia 40 tahun sampai maksimal 55 tahun,” pungkas Gus Badawi tanpa tedeng aling-aling.

Pesan tegas dari Kudus ini kini merupakan pesan dari wakil kyai kyai kampung untuk panitia Munas-Konbes 2026. Apakah elite PBNU berani menyerap “sangu” radikal ini, atau justru terjebak dalam lingkaran birokrasi tua yang kaku? Jawabannya akan tersaji di pesantren pilihan pada akhir Juni mendatang.

Related Stories