Oleh: KH Anis MaftukhinÂ
Tiap hari saya punya tamu. Tidak hanya satu. Bisa tiga sampai lima orang. Bahkan kadang ada yang datang berombongan. Memenuhi beranda rumah kami di komplek pesantren. Beranda itu sudah mirip loket antrean bansos. Riuh sekali.
Maksud dan tujuannya? Macam-macam. Ada yang bawa masalah bisnis, masalah keluarga, sampai masalah umat. Pokoknya, beranda pesantren ini seperti etalase kehidupan. Berwarna-warni.
Nah, begitu kalender memasuki bulan-bulan krusial—saat tahun ajaran baru mulai mengintip—jenis tamunya agak bergeser. Ini musimnya para orang tua galau. Mereka datang khusus untuk curhat, berdiskusi, sambil menimbang-nimbang ke mana harus menyekolahkan anak.
Ada satu dialog yang bikin saya membatin.
“Ngapunten, Kiai,” ujar salah seorang tamu. Dahinya berkerut, memendam kecemasan yang akut. “Saya ini kepengin sekali memasukkan anak saya ke pondok. Tapi, hati saya kok maju mundur. Banyak tetangga bilang santri itu masa depannya buram. Zaman sekarang, orang pintar agama sudah berjubel. Lah, nanti anak saya mau makan apa?”
Saya tidak langsung menjawab. Saya senyum dulu.
Pertanyaan begitu itu seperti kaset jadul yang pitanya sudah molor tapi diputar terus. Sebuah ketakutan sosiologis yang turun-temurun.
Lalu, saya jawab pendek saja: “Ya tergantung anaknya. Dan bagaimana cara pondok mendidiknya.”
Mari kita jernih melihatnya. Sesungguhnya, santri itu sama saja dengan pelajar di sekolah umum. Sama-sama makan nasi, sama-sama belajar. Bedanya cuma satu: kalau anak sekolah umum pusing melihat rumus kalkulus, anak santri pusing mendaras lembar-lembar kitab kuning yang tidak ada harakatnya alias kitab gundul.
“Dan di sana, justru ada nilai pendidikan yang jauh lebih keren,” kata saya.
Tapi saya tahu, stereotip usang di masyarakat kita itu susahnya minta ampun buat dikikis. Prasangkanya masih itu-itu saja: santri itu tahunya cuma ngaji, miskin keterampilan, pemalas, dan kalau lulus modalnya cuma sarung sama kotak sabun.
Saya tidak menafikan hal itu total. Faktanya, memang ada lulusan pesantren yang begitu pulang ke rumah kaget. Belum siap kerja. Masih bingung mau jadi apa selain nunggu undangan tahlilan.
Tapi, hallo? Bukankah jutaan sarjana mentereng lulusan kampus beken juga banyak yang lunglai? Banyak yang jadi pelanggan tetap situs pencari kerja? Sama saja, toh? Jangan urusan pengangguran ditimpakan ke pundak santri semua. Itu tidak adil namanya.
Bicara soal kerja, santri itu sebetulnya punya modal etos kerja yang di atas rata-rata. Mereka dididik siap tempur. Bekerja apa saja, tidak pilih-pilih gengsi. Santri bisa jadi apa saja—tergantung arah bakat dan keahliannya.
Hebatnya pesantren adalah ini: sejak hari pertama masuk, santri tidak pernah dicuci otaknya untuk bercita-cita menjadi pegawai kantoran, buruh pabrik, atau pemburu slip gaji bulanan. Mereka diajar mandiri sejak dalam pikiran.
Sebab, siapakah santri sesungguhnya? Mereka adalah petarung kehidupan di lembaga pendidikan tertua negeri ini. Di pesantren, tidak ada kamus untuk bermanja-manja.
Coba bayangkan ritme hidupnya. Mereka harus bangun jauh sebelum subuh. Menembus angin malam yang menusuk tulang hanya untuk antre mandi di kamar mandi komunal. Siapa yang telat, silakan gigit jari. Setelah itu? Mengkaji teks klasik, bersujud berjamaah, lalu memegang sapu lidi untuk membersihkan halaman sendiri.
Kalau etos kerja hanya diukur dari kekuatan otot yang menegang, itu namanya kuli panggul.
Di pesantren, kerja keras itu paket lengkap: ketekunan duduk berjam-jam menekuni teks Arab, konsistensi menghafal bait-bait nazam tanpa kenal libur panjang, dan kesetiaan merawat kesederhanaan tanpa hobi mengeluh.
Di zaman sekarang—di mana anak muda sedikit-sedikit mengeluh mental health karena kuota internet habis—watak tangguh ala santri ini adalah barang mewah!
Apalagi, pesantren zaman now sudah berubah total. Bukan lagi kuper alias kurang pergaulan. Di sela-sela derap hafalan ayat, layar komputer dinyalakan. Coding dipelajari. Matematika digilas. Bahkan, virus kewirausahaan sengaja ditularkan. Maka jangan heran kalau hari ini banyak santri yang bisa kuliah ke luar negeri lewat jalur beasiswa murni.
Kalau Anda iseng membuka lembar-lembar kitab kuning—yang sering dituduh bikin orang kuper itu—Anda justru akan menemukan teori kehidupan yang sangat membumi.
Di dalam khazanah fikih klasik, ada satu profesi yang hobi sekali disebut-sebut oleh para ulama: tukang sol sepatu! Teks Arabnya menyebut al-iskafi atau al-khaffaf.
Profesi tukang sol sepatu ini nangkring di mana-mana. Ada di bab ijarah (sewa jasa), bab syahadah (persaksian), sampai bab diyat (denda).
Kenapa para ulama kuno gemar sekali memakai contoh tukang sol sepatu?
Karena pekerjaan itu nyata. Kasatmata. Tidak ada tipu-tipu atau spekulasi saham yang bikin jantungan. Orang datang membawa sepatu robek, sang iskafi menjahitnya, sepatu utuh kembali, transaksi selesai. Sederhana. Tapi dari sanalah para ulama menarik garis hukum: bahwa mencari nafkah itu jasanya harus jelas (maklum), tidak boleh abu-abu.
Lebih asyik lagi, para ulama juga membahas hal yang sensitif: muru’ah alias harga diri. Apakah gengsi jadi tukang sol sepatu?
Kitab Fathul Qarib menjawabnya dengan telak: tidak! Seseorang tidak akan kehilangan harga dirinya selama ia melakoni pekerjaan yang halal dan lumrah. Justru yang tidak punya harga diri itu adalah orang yang gayanya necis bak bangsawan, gengsinya setinggi langit, tapi tangannya malas menyentuh keringat pekerjaan. Hidup dari belas kasihan.
Fikih Islam itu lahir dari riuh pasar. Dari gang-gang sempit yang becek. Dari debu jalanan dan jemari yang legam oleh kerja keras. Bukan dari ruangan ber-AC di dalam istana yang steril.
Bagi seorang santri, konsep al-iskafi ini adalah sentilan yang pedas. Ilmu agama tidak boleh cuma jadi hiasan bibir saat debat, sementara tangan Anda gemetar dan jengah ketika disuruh memegang alat pertukangan, cangkul, atau mengelola toko. Rasulullah sendiri sudah mengingatkan: sebaik-baik makanan adalah yang dikunyah dari hasil keringat sendiri. Sepasang tangan yang kapalan karena bekerja jauh lebih dicintai Tuhan ketimbang mulut yang fasih berteori tapi dompetnya hasil meminta-minta.
Jadi, untuk para orang tua yang masih didera cemas di beranda rumah saya: buang jauh-jauh rasa takut itu. Santri bukan generasi masa depan kelabu. Mereka adalah anak-anak muda yang dididik untuk tahu caranya tegak berdiri di atas kaki sendiri.
Bagi mereka, bekerja itu bukan sekadar kompetisi mengumpulkan harta demi pamer di media sosial. Bekerja adalah bagian dari ritus ibadah untuk merawat kehidupan.
Ini poin penting untuk para orang tua. Investasi memasukkan anak ke pesantren itu dampaknya panjang. Menembus batas dunia. Kebahagiaan yang dikejar bukan cuma sukses di dunia yang fana ini, tapi investasi aman untuk di alam baka kelak. Jalurnya memang terjal, tapi hasilnya abadi.
Soal kelak anak Anda kaya raya atau hidup bersahaja, itu rahasia Ilahi. Tugas manusia hanyalah bergerak. Dan santri, sejak subuh pertama mereka di kamar pondok yang sempit, sudah bersumpah untuk tidak akan pernah berhenti bergerak.
Semangat kemandirian dan anti-gengsi seperti inilah yang setiap hari kami nyalakan di Pesantren WALI (Wakaf Literasi Islam Indonesia).
Di sini, suasananya asyik. Santri tidak hanya diajak menguras energi untuk menyelami kedalaman kitab kuning dan ilmu agama. Lebih dari itu, kami di Pesantren WALI secara sadar menyuntikkan dosis tinggi jiwa usaha (entrepreneurship) ke dalam urat nadi para santri.
Langkah yang kami ambil konkret, bukan sekadar seminar motivasi. Santri kami tempa langsung agar kreatif, melek peluang, dan tidak canggung berbisnis sejak dini. Tujuannya jelas: begitu lulus dan terjun ke masyarakat, mereka tidak kebingungan mencari lowongan kerja, melainkan sibuk membuka lapangan kerja. Mereka siap menatap masa depan dengan kepala tegak sebagai motor penggerak ekonomi umat.
Jadi, daripada Anda terus galau di rumah menghitung hari sambil mendengarkan gosip tetangga, mulailah berinvestasi untuk masa depan generasi Anda. Mengantarkan mereka pada keberkahan dunia sekaligus jaminan keselamatan Anda di akhirat kelak.
Kalau kebetulan Anda sedang jalan-jalan atau melintas di daerah Tuntang, Candirejo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, beloklah sebentar. Beranda kami selalu terbuka. Tengoklah sendiri bagaimana masa depan itu sedang kami persiapkan dengan penuh semangat di Ponpes Wali.
Selamat bergabung, dan bersiaplah melihat anak Anda jadi santri yang keren!


